Langsung ke konten utama

Rancangan Penelian Deskriptif (Penelitian Bahasa Arab)

RANCANGAN PENELITAN DESKRIPTIF
(Metode Penelitian Bahasa Arab)


Hasil gambar untuk gambar bahasa arab

Rancangan deskriptif awal mula digunakan pada akhir abad ke 18, yaitu digunakan untuk mendeskripsikan rumah tahanan di Inggris yang selajutnya digunakan untuk dibandingkan dengan rumah tahanan di Jerman dan Prancis. Rancangan deskriptif adalah suatu rancangan penelitian yang menggambarkan variabel atau kondisi seperti apa adanya dalam suatu situasi. Menurut Best (1997) , di dalam rancangan deskriptif ini juga tercakup suatu usaha pemberian, pencatatan, penganalisaan, dan penginterprestasian kondisi-kondisi yang terjadi. Pernyataan ini dipertegas oleh Nazir (1988), bahwa rancangan deskriptif adalah suatu metode untuk meneliti suatu status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diteliti. Yang termasuk dalam rancangan deskriptif ini misalnya studi kasus, survai, studi perkembangan, dan studi korelasi.
A.     Rancangan Studi Kasus (دراسة الحالة)
Menurut Bogdan dan Biken (1982), studi kasus (case study) merupakan suatu rancangan penelitian yang memfokuskan pada satuan unit, seorang anak, suatu kelompok kecil, suatu sekolah atau kelas, suatu komunitas tertentu, dan suatu peristiwa. Dilihat dari statusnya sebagai studi kasus, maka fenomena yang diteliti merupakan fenomena yang khas, unik, dan kasuistik. Dalam penelitian studi kasus ini, peneliti berusaha mengkaji secara mendalam mengenai seorang individu atau suatu unit sosial. Peneliti berusaha menemukan semua variabel penting yang terdapat dalam subjek yang diteliti. Tujuan penelitian studi kasus ini adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat, serta karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas ini akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum.
Beberapa contoh tentang penelitian studi kasus  dalam pembelajaran bahasa Arab :
1.      Model Terjemahan Jenggotan di Pondok Pesantren Shiratul Fuqaha’. Gundaling Legi Kab. Malang
2.      Pembelajaran Tulis Huruf Al-Qur’an di Pondok Pesantren Mamba’ul Hisan oleh Moh. Amin
3.      Metode Klasis dalam pembelajaran Tata Bahasa Arab Pondok Pesantren Pembinaan Agama Islam Desa Ketapang, Kec. Kepanjen Kab. Malang. Oleh Moh. Ainin

Studi kasus memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya adalah :
a.       Kajian dilakukan secara mendalam dan utuh dalam totalitas lingkungan yang diteliti, sehingga informasi yang dihasilkan lebih konfrenshif dan tuntas.
b.      Hasil penelitian studi kasus memberikan hipoesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan
c.       Kajian yang intensif ini memungkinkan ditemukan suatu hubungan-hubungan yang tidak terduga sebelumnya, dan kebenaran informasi dapat ditransferke subjek lain yang memiliki karakteristik yang sama.

Sementara itu, kelemahan studi kasus adalah :
a.       Karena kedalamannya, studi kasus tidak memiliki keluasan.
b.      Karena sampel yang diteliti terlalu kecil, maka sulit dibuat referesi kepada populasi lain.
c.       Unsur subjektifitas peneliti “ikut mewarnai”  penelitian studi kasus dalam pemilihan kasus karena tidak menutup kemungkinan kekhasan yang ada dibesar-besarkan oleh peneliti
d.      Objektifitas terhadap interpensi hasil juga masih dipertanyakan.

B.     Survai (المسحية دراسة)
Survai merupakan salah satu bentuk rancangan deskriptif. Tujuan survai adalah untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan bukan informasi tentang individu. Menurut Nazir (1988), metode survai ini bertujuan memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik dari suatu kelompok atau daerah. Untuk itu, unit yang digunakan dalam survai ini cukup besar. Dibidang pendidikan bahasa Arab misalnya, rancangan survai ini dapat digunakan untuk memperoleh  informasi tentang SMU di Jawa Timur yang menyajikan pelajaran bahasa Arab sebagai pilihan bahasa Asing. Didalamnya tercakup latar belakang guru, fasilitas pembelajaran, buku ajar yang digunakan, dan lain-lain yang terkait. Selain itu, rancangan survai inijuga dapat digunakan untuk memperoleh tentang minat siswa SMU di Jawa Timur terhadap bahasa Asing pilihan dari kegiatan survai ini ditemukan informasi tentang bahasa Asing apa saja yang diminati koleh mereka dan bahasa Asing manakah yang paling banyak peminatnya.
Menurut Ubaidat (1987), yang termasuk kategori penelitian survai ini adalah sekolah, survai sosial (الإجتماعي المسح), meneliti pendapat masyarakat (العام الرأي دراسة), analisis pekerjaan (العمل تحليل دراسة), dan analisis isi (دراسة تحليل المضمون) . Mengenai survai sekolah hal-hal yang disurvai misalnya problematika yang berkaitan dengan guru, siswa, sarana pembelajaran, metode pembelajaran, tujuan pembelajaran/pendidikan, kurikulum dan lain-lain. Dalam survai sosial , hal-hal yang disurvai sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Jhon Howard, dan kawan-kawan pada tahun1772 adalah keadaan penjara dan narapidana, sebab-sebab mereka dipenjara, kondisi penduduk miskin, para pekerja dikota kecil dan di kota besar. Tujuan survai ini adalah untuk mencari solusi terhadap problema sosial sebaai salah bentuk sosial pada beberapa negara di Eropa.
Dalam survai pendapat umum ini, peneliti memperoleh informasi mengenai pendapat, sikap, pandangan masyarakat secara spontan terhadap fenomena atau isu-isu tertentu. Apabila dikaitkan dengan keberadaan bahasa Arab di Indonesia misalnya, jenis survai ini dapat digunakan untuk menjaring pendapat dan sikap masyarakat dari berbagai lapisan terhadap eksistensi bahasa Arab. Survai dalam bentuk analisis pekerjaan bertujuan untuk memberikan deskripsi secara umum menenai kewajiban dan tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan. Sementara itu, analisis isi berkaitan dengan kajian terhadap dokumen tentang topik-topik tertentu. Teknik pengumpulan data yang lazim digunakan dalam survai ini adalah angket dan wawancara.
C.     Studi Perkembangan (الدراسة النمائية)
Studi perkembangan merupakan salah satu studi dalam penelitian yang memerikan informasi penting bagi para peneliti, khususnya bagi peneliti di bidang pendidikan. Bagi peneliti pendidikan, studi ini memberikan informasi penting mengenai perkembangan intelektual, emosional, dan perkembangan sosial siswa. Selain itu, melalui studi perkembangan ini, peneliti dapat juga memperoleh informasi mengenai progresifitas kemampuan belajar siswa, perkembangan kualitas pembelajaran, dan perkembangan sarana dan prasarana pembelajaran. Dibidang bahasa khususnya bahasa Arab, studi ini dapat digunakan untuk mendeskripisikan perkembangan bahasa anak/siswa (perkembangan morfem, fonem, kata, tatabahasa, dan perkembangan keterampilan berbahasanya).
Ada dua teknik yang dapat digunakan dalam studi perkembangan ini, yaitu metode longitudinal (الدراسة الطويلة) dan metode cross-sectional (الدراسة المستعرضة) . berikut ini uraian untuk kedua metode tersebut :
1.      Metode Longitudinal (الدراسة الطويلة)
Dalam metode ini sampel subjek yang sama dipelajari sejak waktu tertentu. Menurut Ubaidat (1987), dalam metode longitudinal ini peneliti dapat memilih sekelompok individu-individu dan mengikuti perkembangannya dalam usia yang yang berbeda. Selanjutnya Ubaidat member contoh sebagai berikut, apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak pada usia antara usia 2 sampai 5 tahun, maka dia melakukan hal ini :
-         Memilih beberapa anak yang berusia 2 tahun
-         Mengamati kosa kata yang dimiliki oleh anak pada usia tersebut.
-         Melakukan pengamatan secara continue  terhadap perkembangan bahasa mereka sampai enam bulan atau/dan setahun
-         Mencatat hasil pengamatan dalam tabel tertentu yang berisi tentang usia anak dalam jumlah kata yang dikuasai oleh anak.
-         Menyimpulkan hasil temuan.
Metode longitudinal ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulanya adalah bahwa metode ini menghasilkan suatu temuan yang detail, mendalam, dan dilakukan secara intensif. Sementara itu, kelemahan dalam metode ini terbatas pada sekelompok kecil, membutuhkan waktu lama, apabila kebetulan sampel yang dipilih itu ternyata jelek, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya, metode ini menuntut kerjasama yang intens dengan subjeknya dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, mengikuti subjek yang selalu berpindah-pindah tempat merupakan pekerjaan yang sulit dan membosankan.


2.      Metode Cross-Sectional (الدراسة المستعرضة)
Metode cross-sectional ini merupakan kebalikan dari metode longitudinal. Metode ini meneliti kelompok dari berbagai usia dan tingkatan pada saat yang sama. Apabila dalam metode longitudinal sampel ditetapkan dari sekelompok kecil individu pada usia yang sama, maka dalam cros-sectional ini sampel diambil dari beberapa kelompok usia. Sebagai gambaran, apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak antara 2, 5, dan 6 tahun maka langkah-langkah yang dilakukan adalah :
-         Memilih kelompok anak usia 2 tahun
-         Memilih kelompok anak usia 3 tahun dan kelompok yang lain (anak usia 4 tahun dan kelompok anak usia 5 tahun)
-         Mengukur atau mengitung jumlah kata yang dikuasai oleh masing-masing kelompok usia dan menyusunnya kedalam tabel.
-         Membuat kesimupulan tentang perkembangan bahasa anak dari usia dua tahun sampai usia 5 tahun.
Sebagaimana halnya dengan metode longitudinal. Metode cross-sectional  ini juga memiliki keunggulan dan kelemahan. Kelemahannya adalah sampel yang diteliti dalam metode ini dari berbagai tingkatan dan cukup besar, serta waktu yang dibutuhkan dalam metode ini relatif singkat. Sementara itu kelemahannya adalah perbedaan yang secara kebetulan ada diantara sampel-sampel itu mungkin dapat membuat hasil penelitian menjadi bias, kemungkinan ada variabel luar yang perbedaan diantara populasi-populasi yang ditarik sampelnya, karena subjek terdiri dari berbagai tingkatandan waktu yang digunakan relatif singkat, maka kedetailannya dan kedalaman hasil dalam metode ini masih kurang.

(Sumber: Metodologi Penelitian Bahasa Arab, Dr. Mohc. Ainin, M.Pd)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

metode pengajaran bahasa Arab- thariqah As-sam'iyah As-syafawiyah

THARIQAH AL-QAWA`ID WA TARJAMAH A.    Sejarah Metode Gramatika Tarjamah (Thariqah Al-Qawa’id Watarjamah) Cikal bakal metode ini dapat di rujuk ke abad kebangkitan Eropa (abad 15) ketika banyak sekolah dan universitas di Eropa mengharuskan pelajarannya belajar bahasa latin karena di anggap mempunyai “nilai pendidikan yang tinggi” guna mempelajari teks-teks klasik.metode ini merupakan penerminan yang tepat dari cara bahasa-bahasa yunani kuno dan latin diajarkan selama berabad-abad. Akan tetapi,penamaan metode klasik ini dengan “Grammar Translation Method” baru dikenal pada abad 19,ketika metode ini digunakan untuk pengajaran bahasa arab baik di negara-negara Arab maupun di negara-negara islam lainnya termasuk indonesia sampai akhir abad19. Berabad-abad yang lalu hanya sedikit metodelogi pengajaran bahasa yang di landasi teori belajar bahasa. Pada awalnya di dunia barat pengajaran bahasa asing di sekolah-sekolah di samakan dengan pengajaran bahasa yunani d...

MASALAH DAN VARIABEL PENELITIAN (Penelitian Bahasa Arab)

MASALAH DAN VARIABEL PENELITIAN (Metode Penelitian Bahasa Arab) A.     Pengertian Masalah Penelitian Masalah merupakan perihal yang subtansial dan krusial dalam kegiatan penelitian. Menurut Ary (1979), penelitian yang sistematis diawali dengan persoalan. Jhon Dewey menegaskan bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah adalah pengkuan akan adanya kesulitan, hambatan, atau masalah yang membingungkan peneliti. Masalah merupakan sesuatu yang memerlukan jawaban, penjelasan, atau pemecahan (Ibnu, 2003). Dalam perspektif peneliti, masalah muncul karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dan kesenjangan tersebut belum diketahui jawabannya. Masalah penelitian atau dalam bahasa Arab disebut musykilah mengacu pada ada tidaknya suatu kesulitan, kekurangan, atau kesalahan. Apabila kita menghadapi hal ini maka berarti kita dapat mengatakan bahwa hal itu merupakan suatu masalah. Sebagai gambaran dari uraian diatas, apabila kenyataan menunjukkan bahwa ...