BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Belajar
merupakan salah satu usaha sadar manusia dalam mendidik dalam upaya
meningkatkan kemampuan kemudian diiringi oleh perubahan dan
peningkatan kualitas dan kuantitas pengetahuan manusia itu sendiri.
Belajar
adalah salah satu aktivitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar.
Belajar diperoleh melalui lembaga pendidikan formal dan nonformal. Salah satu
lembaga pendidikan formal yang umum di Indonesia yaitu sekolah dimana di
dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara
guru dan siswa. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau
memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai
dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya.
Biasanya
kemampuan siswa dalam belajar seringkali dikaitkan dengan kemampuan
intelektualnya. Pengukuran kemampuan intelektual ini ditunjukkan oleh hasil tes
IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual. Siswa dengan IQ >
110 tergolong kedalam siswa dengan kemampuan diatas rata-rata, siswa dengan
rentang IQ 90-109 tergolong kedalam rata-rata normal, dan IQ < 90 tergolong
kedalam rata-rata rendah atau siswa dengan kemampuan rendah.
Ada
siswa dengan kecerdasan intelektual diatas rata-rata/rata-rata tinggi namun
tidak menunjukkan prestasi yang memuaskan yang sesuai dengan kemampuannya yang
diharapkan dalam belajar. Kemudian ada siswa yang mendapatkan kesempatan yang
baik dalam belajar, dengan kemampuan yang cukup baik, namun tidak menunjukkan
prestasi yang cukup baik dalam belajar. Dan ada pula siswa yang sangat
bersungguh-sungguh dalam belajar dengan kemampuan yang kurang dan prestasi
belajarnya tetap saja kurang.
Hal
ini menunjukkan bahwa terdapat hambatan dan masalah dalam proses belajar siswa
itu sendiri, baik dalam prosesnya di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu,
guru selaku pendidik dituntut untuk selalu dpat memberikan dorongan/motivasi
kepada siswanya yang kurang bersemangat dalam belajar dan meberikan solusi
terhadap permasalahan belajar yang dihadapi siswanya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Masalah Belajar
1. Pengertian
Belajar
Skinner
(1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive
behavior adaptation”.[1]
Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu
proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Skinner percaya bahwa proses
adaptasi akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcement).
Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari
keadaan sebelumnya. Disamping itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti
belajar membutuhkan waktu untuk mencapai suatu hasil.
Chaplin
(1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua rumusan.
Rumusan pertama berbunyi: “…acquisition of any relatively permanent change
in behavior as a result of practice and experience” (Belajar adalah
perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan
dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of acquiring responses
as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh
respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus).
Menurut
Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim
Purwanto, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap
sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang
dalam suatu situasi.
Berdasarkan pengertian di atas
maka dapat dipahami secara umum bahwa belajar adalah perubahan serta
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang yang relatif menetap
diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan
lingkungannya yang melibatkan proses kognitif.
2. Pengertian
Masalah Belajar
Banyak ahli mengemukakan
pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara
harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan
seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak
mengenakan.
Prayitno (1985) mengemukakan
bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan
bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan.
Sedangkan menurut pengertian
secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan
dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar
ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. “Belajar adalah proses
perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini
terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya” ( Anita E, Wool
Folk, 1995 : 196 ).
Menurut (Garry dan Kingsley, 1970
: 15 ) “Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas), ditimbulkan atau
diubah melalui praktek dan latihan”.
Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”.
Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”.
Dari
definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau
didefinisikan sebagai berikut.“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu
yang dialami oleh siswa dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan”.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa siswa-siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata normal, pandai atau cerdas.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa siswa-siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata normal, pandai atau cerdas.
B. Jenis-jenis
Masalah Belajar
Dalam pengertian masalah belajar
di atas, maka dapat dirincikan jenis-jenis siswa yang mengalami permasalahan
dalam belajar, yaitu sebagai berikut[2]:
1.
Siswa yang tidak mampu mencapai
tujuan belajar atau hasil belajar sesuai dengan pencapaian teman-teman
seusianya yang ada dalam kelas yang sama. Sesuai dengan tujuan belajar yang
tercantum dalam Kurikulum bahwa siswa dikatakan lulus atau tuntas dalam suatu
pelajaran jika telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah
ditentukan oleh tiap-tiap guru bidang studi. KKM dibuat berdasarkan intake
(pencapaian) siswa di dalam kelas. Apabila seorang siswa tidak mencapai
kriteria tersebut, maka yang bersangkutan dikatakan bermasalah dalam pelajaran
tersebut.
2.
Siswa yang mengalami
keterlambatan akademik, yakni siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang
cukup tinggi tetapi tidak menggunakan kemampuannya secara optimal. Belum tentu
semua siswa yang terdapat dalam satu kelas memiliki kemampuan yang sama, ada
beberapa siswa dengan kemampuan intelegensi diatas rata-rata bahkan super.
Kondisi inilah yang menyebabkan si siswa cerdas ini harus menyesuaikan
kebutuhan asupan kecerdasannya dengan kemampuan teman-teman sekelasnya,
sehingga siswa yang seharusnya sudah berhak diatas teman-teman sebayanya
dipaksa menerima kondisi sekitarnya.
3.
Siswa yang secara nyata tidak
dapat mencapai kemampuannya sendiri (tingkat IQ yang diatas rata-rata).
Maksudnya, yaitu siswa yang memiliki intelegensi diatas rata-rata normal tetapi
tidak mencapai tujuan belajar yang optimal. Misalnya KKM pada Mata Pelajaran A
sebanyak 65, kemudian nilai yang dicapainya 70. Padahal seharusnya dengan
tingkat intelegensi seperti itu, yang bersangkutan bisa mendapat nilai minimal
80 bahkan lebih.
4.
Siswa yang sangat lambat dalam
belajar, yaitu keadaan siswa yang memilki bakat akademik yang kurang memadai
dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
Siswa yang mengalami kondisi seperti ini yakni siswa yang memiliki tingkat
kecerdasan di bawah rata-rata dan sangat sering bermasalah dalam pembelajaran.
Seringkali Guru kehabisan ide untuk menangani siswa yang seperti ini, bimbingan
pelajaran tambahan atau ekstra menjadi salah satu alternatif penyelesaian
masalah semacam ini.
5.
Siswa yang kekurangan motivasi
dalam belajar, yakni keadaan atau kondisi siswa yang kurang bersemangat dalam
belajar seperti jera dan bermalas-malasan. Siswa yang seperti ini biasanya
didukung oleh kondisi atau lingkungan apatis, yang tidak peduli terhadap
perkembangan belajar siswa. Lingkungan keluarga yang apatis, yang tidak
berperan dalam proses belajar anak bisa menyebabkan si anak menjadi masa bodoh,
sehingga belajar menjadi kebutuhan yang sekedarnya saja. Lingkungan masyarakat
yang merupakan media sosialisasi turut berperan penting dalam proses memotivasi
siswa itu sendiri.
6.
Siswa yang bersikap dan memiliki
kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatannya atau
perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka
menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya
untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya. Besarnya kesempatan yang
diberikan oleh Guru untuk menyelesaikan tugas menyebabkan siswa mengulur-ulur
pekerjaan yang seharusnya diselesaikan segera setelah diperintahkan, Guru yang
terlalu disiplin dan berwatak tegas juga menjadi faktor berkurangnya perhatian
(attention) yang seharusnya diberikan oleh siswa kepada Guru.
7.
Siswa yang sering tidak mengikuti
proses belajar mengajar di kelas, yaitu siswa-siswa yang sering tidak hadir
atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan
sebagian besar kegiatan belajarnya. Seringkali materi pelajaran yang telah
disampaikan oleh Guru pada pertemuan jauh sebelumnya kemudian siswa
dituntut untuk mengikuti dan menguasai materi pelajaran dalam waktu yang
relatif singkat menyebabkan si siswa menjadi tertekan dan terbebani oleh materi
belajar yang banyak.
8.
Siswa yang mengalami penyimpangan
perilaku (kurangnya tata krama) dalam hubungan intersosial. Pergaulan antar
teman sepermainan yang tidak seumuran dan tidak mengeyam bangku pendidikan
menyebabkan si anak atau siswa terpengaruh dengan pola perilaku dan pergaulan
yang serampangan, seperti berbicara dengan nada yang tinggi dengan orang yang
lebih tua, sering membuat kegaduhan atau keributan di dalam masyarakat.
Kemudian siswa yang bersangkutan membawa perilaku buruknya tersebut kedalam
lingkungan sekolah yang lambat laun menyebabkan teman-teman lainnya terpengaruh
dengan pola perilakunya, baik dalam berbicara ataupun dalam memperlakukan orang
lain.
C. Faktor-faktor
Penyebab Masalah Belajar
1. Hal-hal
yang Berpengaruh Terhadap Proses Belajar
Dalam menunjang berhasilnya suatu
proses belajar, terdapat beberapa hal pokok yang sangat berpengaruh terhadap
proses belajar itu sendiri, yaitu sebagai berikut[3]:
1.
Faktor
intern belajar
Dalam belajar siswa mengalami
beragam masalah, jika mereka dapat menyelesaikannya maka mereka tidak akan
mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat berbagi faktor intern
dalam diri siswa, yaitu:
·
Sikap Terhadap Belajar
·
Motivasi belajar
·
Konsentrasi belajar
·
Kemampuan mengolah bahan ajar
·
Kemampuan menyimpan perolehan
hasil ajar
·
Menggali hasil belajar yang
tersimpan
·
Kemampuan berprestasi
·
Rasa percaya diri siswa
·
Intelegensi dan keberhasilan
belajar
·
Kebiasaan belajar
·
Cita-cita siswa
1. Faktor ekstern belajar
Proses belajar didorong oleh
motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau
menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain
aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan
baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan
faktor eksternal belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa
faktor eksternal yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Faktor-faktor
eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
·
Guru sebagai pembina siswa dalam
belajar
·
Sarana dan prasarana pembelajarn
·
Kebijakan penilaian
·
Lingkungan sosial siswa di
sekolah
·
Kurikulum sekolah
D. Prosedur
dan Langkah-langkah Penanganganan Masalah Belajar
1. Identifikasi
Kasus
Pada hari Sabtu, 28 Mei 2011
berlokasi di SMP Negeri 2 Labuapi Penulis melakukan observasi mengenai
kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam belajar.Dengan tujuan untuk
mengetahui kendala atau masalah dalam belajar, Penulis melakukan pengamatan di
salah satu kelas VIII. Untuk mempermudah proses pengambilan sampel siswa yang
kemungkinan memiliki masalah dalam belajar, Penulis berpedoman pada nilai
raport semester 1 (ganjil) pada kelas tersebut. Pada Leger Raport Semester 1
ditunjukkan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu mata
pelajaran dengan rata-rata kelas terendah. Oleh karena itu, Penulis mengambil 2
sampel (dalam hal ini siswa) yang mendapatkan nilai terendah dalam mata
pelajaran tersebut atau siswa dengan nilai di bawah rata-rata kelas pada mata
pelajaran yang bersangkutan.
2. Identifikasi
Masalah
Setelah menentukan sampel,
Penulis mewancarai kedua sampel siswa ini untuk mendapatkan poin yang menjadi
kendala utama dalam belajar. Dari wawancara tersebut, secara umum sampel A dan
B memiliki kesamaan kendala, yaitu:
1.
Kesulitan belajar yang utama pada
mata pelajaran Bahasa Inggris.
2.
Kendala utama dalam belajar
Bahasa Inggris yaitu kurangnya menguasai kosakata (vocabulary) yang
merupakan dasar (basic) dalam Bahasa Inggris.
3.
Kurangnya waktu yang dimanfaatkan
untuk belajar, kebiasaan belajar hanya dilakukan jika ada Pekerjaan Rumah (PR)
dari Guru.
3. Identifikasi
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dari
poin-poin yang didapatkan melalui wawancara, dapat disimpulkan bahwa masalah
utama siswa adalah kurangnya motivasi belajar yang kemudian
tergambar melalui kebiasaan siswa itu sendiri, seperti tidak menghapal
kosakata, kurangnya pemanfaatan waktu luang, belajar jika ada tugas, atau
ulangan, dan lain sebagainya. Mereka mengikuti proses belajar mengajar seperti
biasa, tetapi hasil dari proses belajar tersebut terlihat tidak cukup optimal,
yang kemudian tergambar melalui nilai akhir yang berada di bawah angka
rata-rata kelas.
4. Identifikasi
Alternantif Penanganan
Alternatif
penanganan masalah belajar yang dalam hal ini kurangnya motivasi belajar melibatkan
beberapa pihak, yakni:
1)
Pemerintah, dalam hal ini peran Pemerintah adalah meciptakan motivasi
belajar siswa. Hal ini berhubungan dengan posisi Pemerintah sebagai pemangku
kebijakan, peran atau tanggung jawab Pemerintah yakni menciptakan kebijakan
yang berhubungan dengan upaya peningkatan motivasi belajar siswa. Pemerintah
harus membuat kebijakan yang memuat regulasi yang pas dan kompeherensif.
Misalnya penetapan buku wajib yang benar-benar harus dipedomani oleh
lembaga-lembaga pendidikan (sekolah), buku yang benar-benar beresensi jelas
(buku yang menarik, yang berisi pengetahuan sekaligus mampu meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar), bukan hanya buku yang monoton, yang itu-itu saja
yang menyebabkan siswa menjadi jenuh dan enggan membacanya. Selain buku yang
menarik, yang mampu memotivasi siswa, buku-buku yang berisi data faktual juga
dibutuhkan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Selain itu, Pemerintah yang
memiliki wewenang untuk membuat kurikulum juga harus memuat dasar motivasi di
dalamnya sebelum sekolah diberi kebijakan untuk membuat kurikulumnya sendiri,
yang tentunya mengacu kepada pedoman kurikulum yang dibuat Pemerintah.
2)
Guru, dalam hal ini Guru memeliki
kapasitas dan peranan yang besar dalam memotivasi siswa. Karena salah satu
tugas Guru yakni sebagai agen pembelajaran, bagaimana seorang guru bisa
menciptakan transfer pelajaran sekaligus motivasi kepada siswa-siswanya. Peran
guru dalam memotivasi siswa dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:
1.
Guru melakukan sosialisasi
tentang motivasi kepada siswa, motivasi yang diberikan bisa dalam bentuk
ceramah singkat yang diberikan sebelum memulai proses pembelajaran. Selain itu,
guru bersama guru mata pelajaran secara aktif berdiskusi dalam rangka
menciptakan motivasi sehingga siswa-siswanya tidak mengalami kekurangan
motivasi. Guru Bimbingan Konseling juga memiliki peranan yang cukup besar dalam
hal memotivasi siswa, guru secara berkelanjutan memberikan penyuluhan dan
motivasi kepada siswa baik secara perorangan (individu) maupun secara kelompok.
2.
Perubahan strategi/metode belajar
sesuai dengan kondisi real siswa. Saat ini, metode belajar yang populer di
Indonesia yang dikenal dengan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan). Aktif artinya ketika proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif untuk bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Inovatif artinya bagaimana guru
menciptakan pembelajaran yang bisa membuat siswanya berpikir bahwa learning is
fun, sehingga tertanam didalam pikiran siswanya tidak akan ada lagi perasaan
tertekan dengan tenggat waktu pengumpulan tugas dan rasa bosan tentunya. Kreatif
artinya agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Efektif artinya bagaimana guru mampu
menciptakan apa yang harus dikuasai oleh siswa selama kegiatan pembelajaran
berlangsung tanpa menyia-nyiakan waktu. Dan Menyenangkan artinya suasana
belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya
secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”)
tinggi.
3.
Penggunaaan media belajar yang
inovatif, yang mampu menarik perhatian dan meotivasi siswa. Penggunaan
perangkat tambahan seperti LCD Projector atau OHP selain merupakan sarana untuk
mempermudah penyampaian guru juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan
perhatian belajar siswa. Sebab ada siswa yang mampu belajar cepat secara audio
visual dan nonaudio visual.
3)
Orang tua, dalam hal ini orang tua memiliki peranan yang paling penting
dalam memotivasi anaknya. Sebab sebagian besar waktu yang dihabiskan anak
setelah sekolah yaitu di rumah. Setiap orang tua memiliki cara yang
berebeda-beda dalam hal memotivasi anak-anaknya. Ada orang tua yang menunjang
anaknya dengan sarana pelengkap belajar seperti pengadaan komputer, buku
referensi, maupun peralatan tambahan yang mampu digunakan untuk mengakses internet.
Adapula orang tua yang memberikan motivasi atau dorongan kepada anak-anaknya
melaui wejangan-wejangan, penggunaann model, dan lain sebagainya.
4)
Masyarakat, dalam hal ini peranannya dalam menciptakan lingkungan yang
kondusif, aman, nyaman dan tenteram. Seminimal mungkin tidak menciptakan
suasana buruk yang bisa mempengaruhi bahkan merubah mental anak dalam hal ini
siswa. Melakukan aksi-aksi yang dapat merubah tatanan paradigma dalam kehidupan
bermasayarakat, sehingga dapat mengubah cara pandangan anak terhadap cara
berperilaku. Lingkungan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting,
bagaimana lingkungan memciptakan suasana bahwa siswa tidak hanya merasakan
suasana belajar di dalam lingkungan sekolah, tetapi juga merasakannya di dalam
lingkungan sekitar. Contohnya, Jogjakarta dan Malang merupakan kota dengan
tujuan Pelajar dan Mahasiswa terbanyak. Kita bisa melihat bagaimana
masyarakatnya menjaga kondusifitas suasana lingkungannya dan menjaga seminimal
mungkin agar pelajarnya merasa bahwa lingkungan saya mendukung untuk belajar
dan saya harus belajar, karena tidak ada masyarakat yang akan memberikan
pengaruh buruk terhadap mereka.
Motivation
is an essential condition of learning. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga
fungsi motivasi:
1.
Mendorong manusia untuk berbuat,
jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal
ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.
Menentukan arah perbuatan, yakni
ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan
arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.
Menyeleksi perbuatan, yakni
menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna
mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan
dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan
waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan
tujuan.
Di dalam kegiatan belajar
mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan.
Dengan motivasi, pelajar (siswa) dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif,
dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam kaitan itu perlu
diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah
bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan
kadang-kadang juga bisa tidak kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam
menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab
mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan
perkembangan belajar siswa.
Ada
beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di
sekolah.[4]
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai
simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru
untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar
adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik.
Angka-angka
yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada
juga, banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik
kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila
dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik. Namun demikian
semua itu harus diingat oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu
belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh
karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara
memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam
setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar
kognitif saja tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah
dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena
hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang
tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Sebagai
contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan
menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan/kompetisi
Saingan
atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar
siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak
dimanfaatkan dalam dunia industri atau perdagangan, tetapi juga sangat baik
digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan
kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai
tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah
sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup tinggi. Seseorang akan berusaha
dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga
dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga
diri, begitu juga untuk siswa si subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan
keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para
siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,
memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat
oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa
membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru harus terbuka, maksudnya
kalau ada ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan
mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong
siswa untuk giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar
meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu
harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila
ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu
diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan
sekaligus merupakan motivasi yang baik. Dengan pujian yang tepat akan
memupuk suasana yang menyenangkan dan mempeartinggi gairah belajar serta sekaligus
akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman
sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan
bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami
prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat
untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar.
Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa
maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada
motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi sangat erat
hubungannyadengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu
juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.
Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai
minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.
Membangkitkan adanya suatu
kebutuhan
2.
Menghubungkan dengan persoalan
pengalaman yang lampau
3.
Memberi kesempatan untuk
mendapatkan hasil yang baik
4.
Menggunakan berbagai macam bentuk
mengajar.
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan
diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting.
Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna
dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi
sebagaimana diuraikan di atas, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara
yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru adanya bermacam-macam motivasi
itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat menghasilkan hasil belajar
yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk ,otivasi) siswa
itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajar
itu bisa diarahkan menjadi kegiatan belajar yang bermakna, sehingga hasilnya
pun akan bermakna bagi kehidupan si subjek belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Muntasir,
Saleh. 1985. Pengajaran Terprogram. Jakarta: RAJAWALI PERS.
Syah,
Muhibbin. 2002. Psikologi Belajar. Cetakan ke-10. Jakarta: RAJAWALI
PERS.
Halaman
Website:
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/pengertian-belajar.html,
diakses pada tanggal 13 April
2015.
http://umanradieta.blogspot.com/p/masalah-masalah-dalam-belajar.html,
diakses pada tanggal 13 April 2015
http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/04/jenis-jenis-masalah-belajar-dan-faktor.html,
diakses pada tanggal 13 April 2015
http://blog.unsri.ac.id/yunifitriyah/belajar-dan-pembelajaran/masalah-masalah-belajar/mrdetail/15802/,
diakses pada tanggal 13 April2015
http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-dan-menyenangkan/,
diakses pada tanggal 13 April 2015
Komentar
Posting Komentar