BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
Pemkiran
Organisasional memiliki sejarah dramatis yang meluas. Kompleksitas isu
Organisasional dipacu oleh meledaknya pengetahuan teknologi dan keberagaman
perubahan pada nilai-nlai kemasyarakatan, kepercayaan dan harapan. Perubahan
merupakan suatu dorongan kebutuhan atau kemungkinan merupakan permintaan yang
dirasakan oleh banyak pihak. Sistem sekolah berdasarkan pada model Weberian,
yang didefenisikan sebagai kontrol, efisiensi, dan rutinisasi tidak mamapu
secara efektif bertemu dimasa sekarang [1].
Dari
waktu ke waktu organisasi dari berbagai gaya mulai berkembang, dewasa dan
mengalami penurunan. Siklus kehidupan suatu organisasi ditunjukkan melalui masa
kedewasaan – penurunan dan berubahnya model. Secara umum, organisasi
mengahabiskan sebagian waktunya pada periode stabilitas (keseimbangan) yang
ditandai sebagai periode transisi (masa peralihan)[2].
Organisasi
merepresentasikan[3]
sebuah kebebasan individu, pada kesetaraan, pada makna kolaborasi (kerja sama),
atau pada kebersaingan lainnya. Organisasi secara konstan (terus-menerus)
terbentuk berdasarkan konsep-konsep ini, dan secara tipikal (khas) mengarah
pada satu tujuan. Image baru organisasi kemudian terbentuk: organisasi
sebagai manajemen yang baik, sebagai kualitas, jasa, atau sebagai informasi. Image
baru ini berpengaruh terhadap kegiatan organisasi dalam berbagai cara,
tergantung pada titik berat politis yang ada yang ada pada organisasi sekarang.
Dari segi kultural, organisasi menjadi otokrasi, melakukan pekerjaan sesuai
dengan seharusnya; atau birokrasi, melakukan pekerjaan dengan cara ini; atau
demokrasi, melakukan pekerjaan dengan cara yang telah diputuskan[4].
Berdasarkan
analisis terhadap kepentingan-kepentingan ini, organisasi merasakan dan
menciptakan Imagennya, kemudian berlanjut untuk berkembang dan
memproteksi lingkungannya. Dengan demikian, kita dapat mengobservasi paradigma
awal organisasional yang beragam ini dapat mengarah pada eksistensi
(keberadaan) organisasi: fokus pada ekonomi, fokus pada hubungan manusia atau
fokus pada pengembangan organisasi.
Hal yang
perlu diperhatikan dalam pengorganisasian, antara lain ialah bahwa pembagian
tugas, wewenang, dan tanggung jawab, hendaknya disesuaikan dengan
pengalaman, bakat, minat, pengetahuan, dan kepribadian setiap orang yang
diperlukan dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.
Pengorganisasian
itu adalah fungsi manajemen yang mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Adanya
pembagian kerja (job description) yang jelas.
2. Pembagian
aktivitas menurut level kekuasaan dan tanggung jawab.
3. Pembagian
dan pengelompokan tugas menurut mekanisme koordinasi kegiatan individu dan
kelompok.
4. Pengaturan
hubungan kerja antar anggota organisasi.
Rumusan Masalah
:
1.
Apakah
Pengertian Pengorganisasian ( Organizing ) ?
2.
Bagaimana
bentuk-bentuk pengorganisasian ?
3.
Apakah
Asas-asas pengorganisasian ?
Tujuan :
1.
Menjelaskan
arti dari Pengorganosasian ( Organizing ).
2.
Menjelaskan
bentuk-bentuk pengorganisasian.
3.
Menjelaskan
Asas-asas Pengorganisasian.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pengorganisasian (Organizing)
Apakah arti organisasi? organisasi dapat diartikan sebagai
kumpulan beberapa orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan
tertentu. Organisasi dalam bentuk apapun akan selalu ditemui dalam kehidupan
sehari-hari. Organisasi merupakan unsur yang dibutuhkan dalam kehidupan
bermasyarakat dengan beberapa alasan, seperti organisasi digunakan untuk
mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin dapat kita lakukan sendirian, dengan
bekerja sama individu-individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang apabila
dikerjkan seorang diri tidak akan tercapai, organisasi dapat menyediakan
pengetahuan yang berkesinambungan serta dapat menjadi sumber karier yang
penting.
Selayaknya
sebuah organisasi menghasilkan sebuah manfaat bagi anggota organisasi maupun
masyarakat sehingga organisasi mampu memepertahankan kelangsungan hidup mereka.
Secara umum organisasi dibedakan atas dua bentuk, pertama organisasi dengan
orientasi laba seperti perusahaan yang menyediakan produk barang atau jasa
(baik perusahaan besar maupun kecil), kemudian organisasi nirlaba atau yang
tidak berorientasi laba seperti yayasan, sekolah, rumah sakit milik pemerintah,
perkumplan sosial dan lain-lain.
Adapun
bentuk organisasi ini diperlukan usaha-usaha untuk mengelola kegiatan dan
orang-orang maupun unsur lainnya yang ada didalam organisasi agar tercapainya
tujuan dengan baik. Proses pemberian tugas, pengalokasian[5]
sumber daya serta pengaturan kegiatan secara terkordinir kepada setiap individu
dan kelompok untuk menetapkan rencana yang telah dibuat meliputi penetapan
dimana keputusan dibuat, siapa yang akan melaksanakan tugas dan pekerjaan serta
siapa yang akan bekerja.
B.
Bentuk-bentuk Organisasi
Menurut
Ibnu Syamsi[6] organisasi ada 3 bentuk :
1.
Organisasi Sosial
Adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berguna sebagai saran
partisipasi masyarakat dalam membangn bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang
hidup bersama-sama manusia membentuk organisasi sosial sebagai tujuan tertentu yang
tidak bisa mereka capai sendiri.
Keberadaan lembaga sosial tidak lepas dari adanya norma dalam
masyarakat. Dimana nilai merupakan suatu yang baik, di cita-citakan, dan
dianggap penting oleh masyarakat. Oleh karenanya, untuk mewujudkan nilai sosial
masyarakat membuat aturan-aturan yang tegas yang disebut norma sosial.
Sekelompok akan membentuk suatu sistem norma, inilah awalnya lembaga sosial
terbentuk.
Pada awalnya lembaga sosial terbentuk dari norma-norma yang
dianggap penting dalam hidup bermasyarakatan. Terbentuknya lembaga sosial
berawal dari individu yang saling membutuhkan, kemudian timbil aturan-aturan yang
disebut norma kemasyarakatan. Lembaga sosial sering juga disebut Pranata
Sosial. Keberadaan lembaga sosial mempunyai fungsi bagi kehidupan sosial,
fungsi-fungsi tersebut anara lain :
a.
Memberikan
pedoman kepada anggota masyarakat tentang sikap menghadapi masalah di
masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhnan pokok.
b.
Menjaga
keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan.
c. Memberi
pegangan kepada anggota masyarakat untuk mengadakan pengawasan terhadap tingkah
laku para anggotanya.
2.
Organisasi Mahasiswa
Adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa sebagai wadah
kegiatan atau ekstrakurikuler. Organisasi ini dapat beupa organisasi
kemahasiswaan intra kampus, organisasi
kemahasiswaan antar kampus, organisasi ekstar kampus ataupun semacam ikatan
kemahasiswaan kedaerahan yang umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus.
Salah satu bentuk organisasi mahasiswa Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis
(IOMS) baik ditingkat perguruan tinggi, antar perguruan tinggi maupun tingkat
nasionalseagai wadah kerja sama dan berjejaring untuk mengembangkan potensi
serta partisipasi aktif terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kemajuan
Indonesia sesuai ilmu yang dimilikinya. Pada dasarnya organisasi mahasiswa
adalah suatu kumpulan demi tujuan bersama. Organisasi mahasiswa tidak boleh
keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri darma
perguruan tinggi tanpa daya kritis dan
tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan.
3.
Organisasi Politik
Adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau
berkepentingan atau terlibat dalam proses politik dan dalam ilmu kenegaraan, secara
aktif berperan dalam menentukan nasib bangsa tersebut. Organisasi politik dapat
mencakup berbagai jenis organisasi seperti kelompok
advokasi
(pembelaan)[7] yang melobi[8]
perubahan kepada politisi, lembaga think
tank yang mengajukan alternatif kebijakan, partai politik yang mengajukan kandidat pada
pemilihan umum, dan kelompok
teroris yang menggunakan kekerasan untuk mencapai
tujuan politiknya. Dalam pengertian yang lebih luas, suatu organisasi politik
dapat pula dianggap sebagai suatu sistem politik jika memiliki sistem pemerintahan
yang lengkap.Organisasi politik merupakan bagian dari suatu kesatuan yang
berkepentingan dalam pembentukan tatanan
sosial pada suatu wilayah tertentu oleh pemerintahan yang sah. Organisasi ini juga
dapat menciptakan suatu bentuk struktur untuk diikuti.
C.
Asas-asas Oranisasi
Agar suatu organisasi berjalan dengan baik perlu adanya asas-asas atau prinsip-prinsip tertentu. Atau dengan kata lain
suatu organisasi yang baik perlu dilandasi oleh suatu asas-asas atau
prinsip-prinsip tertentu.
Dengan pengetahuan tentang asas-asas atau prinsip-prinsip organisasi maka
dalam setiap usaha untuk mengorganisasi kalau tidak mau mengalami kesulitan
atau kegagalan maka prinsip-prinsip tersebut harus kita perhatikan. Adapun beberapa
asas atau prinsip organisasi yang perlu diketahui antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Asas perumusan tujuan
2. Asas pembagian kerja
3. Asas pendelegasian wewenang
4. Asas koordinasi
5. Asas efisiensi pengawasan
6. Asas pengawasan umum
1.
Asas Perumusan Tujuan[9]
Dalam menyusun suatu organisasi, maka asas yang harus diperkirakan adalah
asas perumusan tujuan. Dengan asas tersebut maka berarti bahwa sebelum
organisasi tersebut disusun, maka terlebih dahulu harus mengetahui tujuan dari
organisasi itu dibentuk. Dengan kata lain menyusun organisasi tersebut
bermaksud agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efisien dan
efektif.
2.
Asas Pembagian Kerja
Di muka telah dikemukakan bahwa, dalam pembentukan atau penyusunan suatu
organisasi adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efisien
dan efektif. Karena suatu organisasi selalu membutuhkan tenaga-tenaga orang
lain yang kadang-kadang tidak sedikit jumlahnya, maka perlu adanya pembagian
kerja yang baik. Dengan adanya pembagian kerja maka tiap orang/bagian akan
dapat mengetahui secara jelas tugas dan tanggung jawab serta kedudukannya
masing-masing dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, akan dapat diharapkan
tidak terjadinya kesimpangsiuran dalam pekerjaan sehingga pekerjaan dapat
dilakukan secara efisien dan efektif.
3.
Asas Pendelegasian Wewenang
Bagi manajer sulit untuk melakukan seluruh pekerjaan seorang diri baik
karena keterbatasan kemampuan waktu dan sebagainya. Untuk itu perlu bagi
seorang manajer dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya menyerahkan
sebagian yang tidak begitu penting kepada bawahan-bawahannya.
4.
Asas Koordinasi
Dengan adanya pembagian kerja dalam suatu organisasi maka diharapkan dalam
pelaksanaan tugas-tugasnya jangan sampai terjadi kesimpang siuran. Akan tetapi,
dalam praktek adanya koordinasi yang baik maka kemungkinan kesimpangsiuran itu
tetap ada, sebab kecenderungan setiap orang atau setiap bagian mempunyai
egoisme untuk berusaha melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Tindakan ini pada
prinsipnya adalah baik, tetapi kalau tindakan ini berlebih-lebihan artinya
tidak memperhatikan kegiatan-kegiatan lain maka justru dapat menyulitkan,
misalnya bagian produksi berusaha untuk meningkatkan produksinya sebanyak
mungkin tanpa memperhatikan bagian penjualan, maka ini berarti akan menimbulkan
over produksi (produksi yang berlebihan).
5.
Asas Batas Efisiensi Pengawasan
Dalam meningkatkan tugas masing-masing orang/bagian tersebut mempunyai
beberapa orang yang di bawah pengawasannya. Untuk itu batas-batas efisiensi
pengawasan harus betul-betul diperhatikan, artinya bila batas pengawasan orang
hanya lima orang maka janganlah orang tersebut dibebani untuk mengawasi delapan
orang. Beberapa batas yang tepat sebenarnya tergantung pada situasi dan kondisi
masing-masing yang tidak dapat dibuat standar secara tegas. Perbedaan kecakapan
yang memimpin, sikap pekerjaan dan faktor-faktor lain ikut pula menentukan
beberapa batas yang paling baik.
6.
Asas Pengawasan Umum
Suatu organisasi tidak dapat terjamin kelancarannya bila pengawasannya
kurang baik untuk itu maka dalam penyusunan organisasi harus dilakukan
sedemikian rupa misalnya diusahakan penyusunan organisasi yang sederhana
sehingga dengan demikian pimpinan akan mampu melakukan pengawasan secara
keseluruhan .
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Organisasi merupakan unsur yang dibutuhkan dalam
kehidupan bermasyarakat dengan beberapa alasan, seperti organisasi digunakan
untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin dapat kita lakukan sendirian,
dengan bekerja sama individu-individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang
apabila dikerjkan seorang diri tidak akan tercapai, organisasi dapat
menyediakan pengetahuan yang berkesinambungan serta dapat menjadi sumber karier
yang penting. Agar suatu organisasi berjalan
dengan baik perlu adanya asas-asas atau prinsip-prinsip tertentu.
Atau dengan kata lain suatu organisasi yang baik perlu dilandasi oleh suatu
asas-asas atau prinsip-prinsip tertentu.
Dengan pengetahuan
tentang asas-asas atau prinsip-prinsip organisasi maka dalam setiap usaha untuk
mengorganisasi kalau tidak mau mengalami kesulitan atau kegagalan maka
prinsip-prinsip tersebut harus kita perhatikan.
Daftar Pustaka
Fatah
Syukur, Manajemen Pendidikan Berbasis pada Madrasah, Semarang : Pustaka
Rizki Putra. 2009
Syayi Abdul, Manajemen Organisasi, Jakarta : Bina Aksara
1987
Ibnu Syamsi, Pokok-pokok organisasi dan Manajemen, Jakarta :
PT. Rineka Cipta, 1994
Nur Kholis, Mengenali Organisasi Pendidikan. Tarbiyah
Surabaya : Press, 1996
Sondang P. Siagian, Analisis serta Perumusan Kebijaksanaan dan
Strategi Organisasi,. Jakarta : CV Haji Masaggung, 1994
[1]
Fattah Syukur
NC, Manajemen Pendidikan, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra.2009, hal.
173
[2]
Ibid, Hal. 181
[3]
Keadaan yang
diwakili (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
[4]
Fattah Syukur
NC, Manajemen Pendidikan, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra.2009 hal.
183
[5]
penetuan
banyaknya biaya yang disediakan untuk suatu keperluan ( Kamus Besar Bahasa Indonesia offline.)
[6]
Ibnu Syamsi, Pokok-pokok
organisasi dan Manajemen, Jakarta : PT. Rineka Cipta,1994, hal. 87
[7] Kamus Besar
Bahasa Indonesia offline
[8]
Proses, cara,
perbuatan menghubungi atau melakukan pendekatan (thd pejabat pemerintah atau
pemimpin politik) untuk mempengaruhi keputusan atau masalah yg dapat
menguntungkan sejumlah orang; usaha untuk mempengaruhi pihak lain dl memutuskan
suatu perkara atau soal, biasanya dng berunding secara tidak resmi atau secara
pribadi.( Kamus Besar Bahasa Indonesia).
[9]
Abdul Syayi, Manajemen
Organisasi, Jakarta : Bina Aksara, 1987, hal. 57
Komentar
Posting Komentar